Semangat Sumpah Pemuda di Era Artificial Intelligence: Mengapa Pendidikan Menjadi Kunci

Oleh: Tim Program Studi Sistem Informasi

Setiap kali kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) membuat tulisan, merangkum dokumen, menerjemahkan bahasa, atau membantu menganalisis data, kita dihadapkan pada pertanyaan yang lebih besar daripada sekadar “teknologi apa yang sedang populer?” Pertanyaannya adalah: apakah kita cukup memahami teknologi itu untuk menggunakannya dengan bijak, memeriksa hasilnya, dan mengarahkannya bagi kepentingan bersama?

Pertanyaan tersebut terasa relevan ketika kita mengingat Hari Sumpah Pemuda. Pada 28 Oktober 1928, para pemuda dari berbagai organisasi dan latar belakang berkumpul untuk menegaskan satu tanah air, satu bangsa, dan bahasa persatuan, Indonesia. Ikrar itu bukan sekadar rangkaian kalimat. Ia menunjukkan bahwa perbedaan dapat dipertemukan oleh tujuan bersama, kemauan belajar, dan keberanian membangun masa depan. Menariknya, pendidikan juga menjadi pokok pembahasan dalam salah satu rapat Kongres Pemuda II.

Kini, tantangan generasi muda berbeda. Bukan lagi hanya memperjuangkan akses terhadap pengetahuan, tetapi juga memilah informasi yang melimpah, memahami cara kerja teknologi, dan memastikan kemajuan digital tidak meninggalkan siapa pun. Di sinilah semangat Sumpah Pemuda bertemu dengan arti pendidikan: keduanya mengajak kita menyiapkan manusia yang mampu berpikir, bekerja sama, dan bertanggung jawab.

Sumpah Pemuda dan cita-cita pendidikan

Kongres Pemuda II berlangsung pada 27–28 Oktober 1928. Museum Sumpah Pemuda mencatat bahwa kongres tersebut dihadiri pemuda dari berbagai organisasi dan diselenggarakan dalam tiga rapat. Pada rapat kedua, 28 Oktober, pembicaraan secara khusus menyoroti pendidikan. Para pembicara menekankan pendidikan kebangsaan, keseimbangan pendidikan di sekolah dan rumah, serta perlunya mendidik anak secara demokratis.

Fakta itu mengingatkan kita bahwa pendidikan bukan gagasan tambahan yang baru muncul setelah kemerdekaan. Dalam ikhtiar membangun kebangsaan, pendidikan sejak awal dipandang sebagai salah satu bekal untuk membentuk manusia yang mampu memahami dirinya sekaligus hidup bersama orang lain. Ikrar persatuan tidak meminta semua orang berpikir seragam. Sebaliknya, persatuan memerlukan warga yang sanggup berdialog, menghargai perbedaan, dan menyusun tujuan bersama.

Di masa kini, makna itu dapat diperluas. Pendidikan tidak berhenti pada penguasaan aplikasi terbaru atau kemampuan mengikuti tutorial. Pendidikan membantu seseorang bertanya: dari mana informasi berasal, apakah kesimpulannya masuk akal, siapa yang mungkin terdampak oleh sebuah sistem, dan bagaimana teknologi dapat digunakan secara adil? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini penting saat AI ikut memengaruhi cara kita belajar, bekerja, berkomunikasi, dan mengambil keputusan.

AI mengubah tugas, tetapi tidak menghapus kebutuhan untuk belajar

AI generatif dapat membantu menyusun kerangka tulisan, menjelaskan konsep, menerjemahkan teks, membuat contoh kode, atau merangkum bahan bacaan. Alat analitik dapat menampilkan pola dari data dalam waktu singkat. Otomatisasi juga dapat menangani sebagian pekerjaan berulang. Namun, hasil yang cepat tidak otomatis tepat, lengkap, atau sesuai konteks. Model AI dapat keliru, melewatkan nuansa, menghasilkan rujukan yang tidak benar, atau menyampaikan jawaban dengan nada yakin meskipun dasarnya lemah.

Karena itu, belajar tetap penting—bahkan semakin penting. Seseorang yang memahami konsep dasar suatu bidang lebih mampu menilai apakah jawaban AI masuk akal. Seseorang yang terlatih membaca data dapat melihat ketika grafik menyesatkan. Seseorang yang memahami etika dapat mempertimbangkan privasi, bias, hak cipta, dan konsekuensi keputusan otomatis. Tanpa bekal tersebut, pengguna berisiko menyerahkan penilaian kepada sistem yang tidak memahami seluruh pengalaman manusia.

Pandangan ini sejalan dengan kerangka kompetensi AI bagi siswa yang diterbitkan UNESCO pada 2024. Kerangka itu memuat empat dimensi: pola pikir berpusat pada manusia, etika AI, teknik dan aplikasi AI, serta desain sistem AI. Kompetensi tersebut berkembang melalui tahapan memahami, menerapkan, dan mencipta.[1] Artinya, pendidikan AI sebaiknya bukan hanya mengajarkan cara menekan tombol. Peserta didik perlu memahami dampak teknologi, mencoba penerapannya, kemudian mampu merancang solusi dengan pertimbangan manusia dan masyarakat.

Empat bekal pendidikan di era AI

1. Literasi teknologi dan data

Literasi teknologi bukan berarti setiap orang harus menjadi pemrogram atau ahli pembelajaran mesin. Namun, setiap orang perlu memahami konsep dasar: bagaimana data dikumpulkan, mengapa hasil AI bergantung pada data dan instruksi, apa keterbatasan sistem, serta bagaimana informasi digital dapat disimpan dan digunakan. Pengetahuan dasar ini membuat kita lebih siap menggunakan alat secara tepat dan menyadari kapan bantuan ahli diperlukan.

Literasi data juga melatih kita membaca angka secara cermat. Ketika sebuah dasbor menyatakan penjualan meningkat, misalnya, kita perlu tahu periode perbandingan, definisi “penjualan”, sumber data, dan apakah ada faktor lain yang memengaruhi. Angka dapat membantu keputusan, tetapi maknanya tetap perlu ditafsirkan. Pendidikan memberi landasan untuk menautkan keterampilan teknis dengan pemahaman konteks.

2. Berpikir kritis dan memecahkan masalah

AI dapat menghasilkan beberapa kemungkinan jawaban, tetapi manusia perlu menentukan masalah yang sebenarnya. Apakah sebuah organisasi membutuhkan chatbot, atau justru membutuhkan prosedur layanan yang lebih jelas? Apakah penurunan kepuasan pelanggan disebabkan aplikasi, waktu tunggu, atau komunikasi yang membingungkan? Kemampuan merumuskan pertanyaan yang tepat sering kali lebih bernilai daripada sekadar menerima jawaban pertama.

Laporan Future of Jobs 2025 dari World Economic Forum menyebut pemikiran analitis sebagai salah satu keterampilan inti yang paling dicari oleh perusahaan responden. Laporan yang sama menempatkan AI dan big data, jaringan dan keamanan siber, serta literasi teknologi di antara keterampilan yang diperkirakan tumbuh paling cepat hingga 2030.[3] Angka dan kategori itu mencerminkan survei serta proyeksi global, bukan jaminan pekerjaan untuk setiap orang atau ramalan khusus bagi pasar kerja Indonesia. Namun, pesannya jelas: kemampuan teknis dan kemampuan menilai masalah perlu berkembang bersama.

3. Etika, tanggung jawab, dan kendali manusia

Menggunakan AI dengan bertanggung jawab berarti memahami bahwa keluaran sistem dapat memengaruhi orang lain. Data pribadi tidak seharusnya diunggah sembarangan ke layanan yang belum dipahami. Informasi penting perlu diperiksa kembali. Pengguna juga perlu menghormati hak cipta, menyebut bantuan AI ketika kebijakan tugas atau tempat kerja mewajibkannya, serta tidak menyamarkan hasil mesin sebagai pengalaman atau analisis pribadi.

UNESCO dalam panduan tentang AI generatif di pendidikan dan riset menekankan pendekatan yang berpusat pada manusia, perlindungan privasi, dan penguatan kapasitas manusia. Panduan itu juga mengingatkan agar AI tidak mengambil alih pemikiran manusia; teknologi dapat memperluas cara berpikir, tetapi tidak seharusnya menggantikannya.[2] Prinsip tersebut penting di ruang kelas maupun kantor. Pengguna tetap bertanggung jawab atas apa yang dikumpulkan, diputuskan, dan disampaikan dengan bantuan AI.

4. Komunikasi, kolaborasi, dan kemauan belajar

Perubahan teknologi jarang diselesaikan oleh satu orang. Pengembangan layanan digital membutuhkan kerja sama antara orang yang memahami teknologi, proses bisnis, kebutuhan pengguna, keamanan, dan komunikasi. Kemampuan mendengar, menjelaskan ide dengan bahasa yang mudah dipahami, memberi umpan balik, serta bekerja lintas latar belakang menjadi bekal yang tidak dapat digantikan hanya dengan akses ke perangkat lunak.

Keterampilan juga perlu diperbarui. Alat yang hari ini banyak dipakai bisa berubah, tetapi kebiasaan belajar—membaca, mencoba, mengevaluasi, dan memperbaiki—tetap berguna. UNESCO menggambarkan peserta didik bukan hanya sebagai pengguna, melainkan juga sebagai warga yang bertanggung jawab dan dapat ikut menciptakan solusi AI.[1] Semangat belajar sepanjang hayat memberi ruang bagi siapa pun untuk menyesuaikan diri tanpa harus menganggap dirinya terlambat memulai.

Apa hubungannya dengan Sistem Informasi?

Sistem Informasi membantu menjembatani teknologi dengan kebutuhan organisasi dan manusia. Pada laman program studinya, Universitas Panca Sakti Bekasi menjelaskan bahwa Sistem Informasi menggabungkan ilmu komputer, manajemen, dan bisnis, serta mempelajari pemanfaatan teknologi untuk mendukung kebutuhan bisnis.Perpaduan tersebut relevan dalam era AI: solusi digital tidak cukup hanya canggih, tetapi perlu menjawab persoalan nyata, mudah digunakan, aman, dan memberi manfaat yang dapat dipertanggungjawabkan.

Bayangkan sebuah usaha kecil ingin memahami produk apa yang paling diminati pelanggan. Mahasiswa atau praktisi Sistem Informasi dapat membantu memetakan kebutuhan, merapikan data transaksi, menyusun indikator, lalu membuat tampilan informasi yang mudah dipahami. AI mungkin membantu mengelompokkan komentar pelanggan atau merangkum pola, tetapi seseorang tetap harus memeriksa kualitas data dan memahami konteks usaha. Rekomendasi yang bagus lahir dari perpaduan teknologi, analisis, komunikasi, dan pengetahuan bisnis.

Contoh lain adalah sistem pelayanan akademik. Otomatisasi dapat membantu menjawab pertanyaan rutin, tetapi rancangan layanan tetap perlu mempertimbangkan aksesibilitas, bahasa yang jelas, keamanan data, dan jalur bantuan manusia ketika masalah tidak dapat diselesaikan oleh bot. Di sinilah cara berpikir sistem—melihat hubungan antara pengguna, proses, data, dan teknologi—menjadi penting. Pendidikan membentuk kemampuan untuk melihat keseluruhan, bukan hanya fitur yang sedang tren.

Bagi calon mahasiswa, ini membuka cara pandang yang lebih luas terhadap pendidikan tinggi. Kuliah bukan semata-mata menghafal perangkat atau mengejar satu sertifikat. Proses belajar dapat menjadi ruang untuk berlatih memecahkan masalah, berkolaborasi dalam proyek, memahami etika profesional, dan membangun portofolio. Bagi mahasiswa aktif, tugas dan proyek dapat diarahkan untuk menjawab kebutuhan masyarakat atau organisasi di sekitar. Bagi pekerja, pengalaman kerja dapat menjadi sumber kasus nyata untuk dipelajari lebih dalam.

Belajar AI dengan sikap yang sehat

Kita tidak harus menolak AI agar tetap menghargai pendidikan. Kita juga tidak perlu menganggap semua keluaran AI benar hanya karena tampak rapi. Sikap yang sehat adalah memakainya secara sadar, sesuai tujuan, dan dengan pemeriksaan manusia. Untuk mulai menerapkannya, cobalah kebiasaan berikut.

Pertama, tentukan tujuan sebelum membuka alat. Jika ingin memahami materi, minta AI menyusun penjelasan bertahap atau memberikan contoh, lalu cocokkan dengan buku, dosen, atau sumber tepercaya. Jika ingin membuat tulisan, gunakan AI untuk membantu mengeksplorasi sudut pandang, bukan menyerahkan seluruh proses berpikir tanpa memahami isi akhirnya.

Kedua, tanyakan asal-usul klaim dan periksa sumber primer. Jangan mengutip tautan yang hanya disebut oleh AI tanpa membukanya. Untuk fakta tentang kebijakan, data, atau sejarah, cari dokumen resmi dan sumber yang dapat diverifikasi. Jika sumber saling berbeda, catat perbedaannya dan jelaskan batas kepastian, bukan memilih jawaban yang paling meyakinkan bunyinya.

Ketiga, jaga data. Hindari memasukkan kata sandi, identitas, data kesehatan, dokumen internal, atau informasi pelanggan ke layanan AI tanpa dasar izin dan pemahaman tentang cara data tersebut digunakan. Jika hanya memerlukan contoh, samarkan data atau gunakan data sintetis yang tidak mengidentifikasi seseorang.

Keempat, transparan dan patuhi aturan. Kebijakan penggunaan AI dapat berbeda antara kelas, kampus, jurnal, dan tempat kerja. Tanyakan aturan sebelum menyerahkan tugas atau dokumen. Simpan catatan tentang bagian yang dibantu AI, periksa ulang isinya, dan nyatakan kontribusi alat ketika diminta. Transparansi menjaga kepercayaan dan membantu orang lain menilai proses kerja secara adil.

Kelima, tetap berlatih tanpa bantuan otomatis. Menulis, berhitung, berdiskusi, membuat kesalahan, dan memperbaikinya membantu membangun pemahaman. Sesekali kerjakan latihan secara mandiri, kemudian gunakan AI sebagai pembanding atau tutor. Tujuannya bukan membuat semua pekerjaan lebih cepat, melainkan menggunakan waktu yang dihemat untuk berpikir lebih dalam dan menghasilkan karya yang lebih baik.

Belajar yang bisa dimulai sekarang

Pendidikan akan terasa lebih nyata jika diterjemahkan menjadi langkah yang dapat dilakukan sesuai tahap hidup. Siswa SMA atau SMK bisa memulai dengan memperkuat matematika dasar, bahasa, pemahaman data, dan kebiasaan memeriksa sumber; lalu mencoba proyek kecil seperti mengolah survei kelas atau merancang solusi digital sederhana. Tidak harus langsung membangun model AI. Belajar mendefinisikan masalah dan menjelaskan proses berpikir sudah menjadi latihan penting.

Mahasiswa dapat menghubungkan teori dengan praktik melalui proyek, studi kasus, organisasi, magang, atau kerja kelompok. Saat menggunakan AI untuk membantu riset atau pemrograman, simpan catatan: bagian mana yang dibantu, apa yang diubah, sumber apa yang diperiksa, dan bagaimana hasil diuji. Kebiasaan ini membuat proses belajar lebih transparan sekaligus memudahkan evaluasi.

Bagi pekerja, belajar ulang dapat dimulai dari tugas sehari-hari: memahami dasbor, memperbaiki dokumentasi proses, atau menguji apakah otomatisasi benar-benar menghemat waktu tanpa menurunkan mutu layanan. Pilih satu kemampuan yang relevan, jadwalkan waktu belajar yang realistis, dan ukur kemajuannya lewat hasil kerja kecil. Pendidikan tidak selalu berarti kembali ke ruang kuliah penuh waktu; ia juga dapat berlangsung melalui pelatihan, komunitas, proyek, dan refleksi atas pengalaman kerja.

Membangun semangat bersama, bukan hanya kecakapan pribadi

Semangat Sumpah Pemuda mengingatkan bahwa kemajuan tidak dibangun dengan meninggalkan kelompok yang berbeda atau tertinggal. Di era AI, akses perangkat, konektivitas, kemampuan bahasa, dan kesempatan belajar dapat berbeda-beda. Karena itu, kecakapan digital perlu dibagikan melalui komunitas belajar, diskusi lintas jurusan, pendampingan sebaya, dan materi yang mudah dipahami. Seseorang yang lebih dahulu menguasai suatu alat dapat membantu temannya belajar, sambil sama-sama memeriksa manfaat dan risikonya.

Persatuan juga berarti membangun teknologi yang menghormati keragaman pengalaman di Indonesia. Bahasa, kebiasaan, kondisi geografis, dan kebutuhan pengguna tidak selalu sama. Sistem yang dirancang hanya untuk satu tipe pengguna dapat menyulitkan orang lain. Pendidikan yang baik menumbuhkan rasa ingin tahu terhadap pengalaman tersebut, mengajak kita mendengarkan pengguna, dan menguji apakah solusi benar-benar bermanfaat bagi mereka yang akan memakainya.

Hal ini selaras dengan empat dimensi dalam kerangka kompetensi UNESCO: pola pikir berpusat pada manusia, etika, pemahaman teknik dan aplikasi, serta kemampuan merancang sistem.[1] Keempatnya dapat diterjemahkan menjadi tindakan sehari-hari: belajar dasar teknologi, bertanya tentang dampak, memeriksa hasil, dan merancang solusi bersama. Kemajuan tidak hanya diukur dari seberapa banyak alat baru yang digunakan, tetapi juga dari seberapa bijak dan inklusif manfaatnya dibagikan.

Kesimpulan

Sumpah Pemuda lahir dari kemauan para pemuda untuk menempatkan tujuan bersama di atas sekat perbedaan. Pendidikan menjadi bagian penting dalam percakapan mereka tentang kebangsaan; kini, pendidikan kembali menjadi bekal untuk menghadapi perubahan yang dibawa AI. Kita membutuhkan pengetahuan teknologi, kemampuan membaca data, pemikiran kritis, etika, kreativitas, komunikasi, dan kemauan untuk terus belajar.

AI dapat membantu manusia bekerja dan belajar, tetapi tanggung jawab untuk bertanya, memeriksa, memutuskan, dan menjaga martabat sesama tetap berada pada manusia. Itulah sebabnya pendidikan di era AI tidak sekadar menghasilkan pengguna alat. Pendidikan perlu membentuk warga yang mampu memahami teknologi, mengarahkannya untuk menyelesaikan persoalan, serta memastikan manfaatnya tidak hanya dinikmati segelintir orang.

Memaknai Sumpah Pemuda hari ini dapat dimulai dari tindakan sederhana: belajar dengan sungguh-sungguh, menggunakan AI secara jujur, memeriksa informasi sebelum menyebarkannya, menjaga data orang lain, dan membantu teman memperoleh kesempatan belajar. Dengan pengetahuan dan semangat kebersamaan, generasi muda Indonesia dapat menjadi bukan hanya penonton perubahan teknologi, melainkan pencipta masa depan yang lebih adil, cerdas, dan manusiawi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *